Tulisan Berjalan

Selamat Datang di Blog Cahaya Dhuafa. Hal terkait Kami semua ada disini. Terima Kasih.

Welcome to My Blog

Kamis, 12 Februari 2015

Sekolahku kini tidak merembes lagi...


Alhamdulillah... Sekolahku kini tidak tampias (red: merembes). Sehingga dapat belajar dengan baik... Aku dapat memahami pelajaran yang telah diterangkan oleh ibu/bapak guru tanpa berpikir akan kehujanan, tidak berfikir akan kebasahan.


Serunya LDKS & Pesantren Qur'an..

Serunya LDKS & Pesantren Qur'an..

 Dunia pendidikan merupakan wadah potensial yang membentuk kesiapan generasi muda dengan modal kompetensi yang berkualitas. Tidaklah mudah membentuk generasi cerdas yang mempunyai wawasan ilmu pengetahuan yang luas, dibutuhkan suatu tempat yang mendukung. Sekolah merupakan sebuah wadah pendidikan yang di dalamnya tidak hanya memberikan ilmu, namun melatih kepemimpinan dan kedisiplinan siswa agar menjadi pemimpin yang mampu bekerja keras, jujur, dan amanah. Pemimpin bukan hanya mampu mengatur dirinya sendiri, namun harus dapat mengatur anggota yang dipimpinnya agar berjalan dengan baik demi tercapainya tujuan organisasi. Dengan demikian, maka dibutuhkan suatu kegiatan yang mampu menerapkan ini semua. Kegiatan ini berupa Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (anggota OSIS) SMP Terbuka Cahaya yang dapat menghasilkan calon-calon pemimpin masa depan yang berkarakter Qur’ani dan Cerdas yang dapat memajukan sekolah, bangsa dan negara Indonesia ini. 
Disini banyak hal yang dapat diperoleh. Mengajarkn saling bekerjasama, saling mengenal watak teman kita lebih dalam, belajar menjadi seorang pemimpin yang dipimpin, belajar bekerja keras, belajar disiplin, belajar mengenal alam,belajar memahami Al-Qur'an lebih dalam, dan masih banyak yang bisa kita dapatkan disni. Acara ini diadakan pada tanggal 8-9 September 2014 berlokasi di Pondok Syahrir Bogor. 
Terakhir, kami ucapkan terima kasih banyak kepada para donatur yang telah bersedia menyedekahkan sebagian hartanya kepada kami. Semoga amal jariyahnya mendapatkan pahala disisi Allah dengan berlipat ganda. Amien ya Rabbal alamin. 

Berikut nama Donatur:
1. Bu Endah (Rp 500.000,-)
2. Hamba Allah (Rp 2.000.000,-)
3. Bapak Hermawan (Rp 250.000,-)
4. Bapak Haryadi (Rp 100.000,-)
5. Hamba Allah (Rp 300.000,-)
6. Hj. Onah (Rp 300.000,-)
7. STIH (Rp 300.000,-)
8. Bapak Ucu (Rp 300.000,-)
9. Bapak Eka (Rp 1.500.000,-)

Pengeluaran
Sewa Tempat                      Rp 2.250.000,-
Konsumsi                          Rp 1.902.000,-
Acara                                Rp 328.000,-

Total Pengeluaran: Rp 4.480.000,- 

Foto Kegiatan















Terima Kasih Ibu Pertamina..

Terima Kasih Ibu Pertamina..

Beberapa bulan yang lalu (10/9), Alhamdulillah kami mendapatkan bantuan dana dari Ibu-ibu Wanita Patra yang baik hati berupa LCD Projector, layar LCD, beberpa box spidol,  buah kursi meja lipat, dan laptop TOSHIBA. Kami belajar dengan nyaman, tanpa duduk lagi di bawah. Semoga Allah memberikan pahala yang berkali-kali lipat dan doa kami untuk menjadi anak-anak bangsa yang sholeh/a yang mampu membanggakan bangsa dan negara. 




Kursi+_Meja Lipat

Black Marker (Spidol)

Layar LCD

Laptop TOSHIBA

CSR Pertamina (PWP)


Ukhti, Engkau Lebih Cantik dengan Hijabmu



 Ukhti, Engkau Lebih Cantik
dengan Hijabmu


“Selalu ada cinta Allah pada setiap bentuk ketaatan pada-Nya, dan yakinlah hijab adalah satu diantaranya”

Bismillah...
            Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan cukup berarti bagi teman-teman. Tetapi satu hal yang pasti saya berharap semoga sepenggal kisah ini dapat menjadi setitik jalan hidayah bagi saudari-saudariku sekalian yang sedang memantapkan hati untuk berhijab.

***
Mazuin Quiachon (Maz) namanya. Gadis Filipin yang tak jauh berbeda usianya denganku. Lahir dari seorang ayah Muslim Malaysia dan ibu seorang Kristian Filipin. Entah bagaimana ceritanya Allah mempertemukanku dengannya di kelas bahasa Turki dan seiring berjalannya waktu ternyata kami pun ditakdirkan menjadi sahabat. Bahkan lebih dari itu, bagiku Maz adalah saudara-saudara seiman. Ya, satu fakta yang mengagetkan di awal pertemuan kami bahwa Maz adalah seorang Muslim.
Maz adalah sosok yang mengagumkan dan berprestasi. Bagaiamana tidak? Selain menyandang predikat summa cumlaude untuk gelar sarjananya, ia juga pernah meraih beasiswa pendidikan di salah satu lembaga pendidikan  di Amerika Serikat. Terdaftar sebagai aktivis lingkungan IAFS. Maz dihadiahi visa jangka panjang yang dapat ia gunakan keluar masuk AS dengan bebas hingga tahun 2020. Hal terakhir yang selalu membuat Alie dan Jesse (teman sekelas Bahasa Turki dari Ghana) iri pada Maz. Empat tahun menekuni bidang Hubungan Interansional juga menjadikan Maz sosok negosiator dan komunikator yang ulung. Hal lain yang membuatku sangat bersyukur berteman dengan Maz.
Meskipun Maz seorang muslim, namun ia belum berhijab saat itu. Hal ini jugalah yang membuat diriku, teman-teman kelas, dan termasuk guru bahasa kami kaget ketika mengetahui bahwa Maz adalah seorang muslim.
Lima bulan sudah kami berteman. Berinteraksi denganku dan beberapa gadis berjilbab lainnya ternyata perlahan-lahan telah membuat Maz tertarik untuk berjilbab. Rupanya perkataanku tempo hari telah membuat Maz merasa ‘tertantang’ untuk menutup aurat.
Maz, I don’t know why but... I think the-closed-girl always looks more beautiful. Have you noticed it?” (Maz, aku gak tau kenapa ya tapi... kayanya perempuan berjilbab itu selalu terlihat lebih cantik. Ngeh nggak?) kataku membuyarkan perhatian Maz pada seorang gadis Turki berpashmina (jilbab panjang) biru yang sedang asik memilih pernak-pernik jilbab di toko seberang. Maz mengangguk pelan tanpa kata.
You know Maz?? I bet you’ll look more beautiful if you use this! Really...” (Kau tahu Maz? Aku yakin kamu bakal keliatan lebih cantik deh akalu pakai ini! Beneran...) tambahku lagi, menyodorkan beberapa helai pashmina yang baru saja kupilih.
To plam ne kadar Abi?” (Turki: Totalnya tadi berapa mas?) Aku menyerahkan uang pecahan lima liraan saat sudut mataku menangkap ekspresi bingung di wajah Maz.
Mmm.. Seriously Erna? Do you think I’ll look good if I... I mean, should I t-r-y..?” (Mmm..beneran Erna? Menurutmu aku akan terlihat bagus kalau.. maksudku,.. haruskah aku mencobanya..?).
            Ternyata ragu, penasaran. Aku hanya tersenyum dan mengedipkan mata. Segera menarik lengan Maz untuk bergegas munuju metro(alat transportasi sejenis kereta). Entahlah Maz mengartikan jawabanku sebagai apa. Tapi kurasa, benih-benih hidayah itu mulai tumbuh dalam diri Maz. Ya Maz berhasil mendapatkan benih itu.
Tiga hari kemudian Maz tiba-tiba datang ke kamarku. Satu plastik besar ditentengnya dengan penuh semangat. Dalam hitungan beberapa detik. Maz sukses memenuhi meja belajarku dengan rok dan pashmina yang baru dibelinya dari pasar.
            “Erna, please teach me to use these...!” (Erna, tolong ajari aku memakai ini..!) katanya sambil mengipas-ngipas rambutnya dengan tangan. Maz mendapatiku terbelalak tak percaya. Antara kaget dan bahagia aku hanya berdiri manatap. Maz menutupi mulutku dengan kedua le ngan untuk beberapa detik. Subhanallah..
Akhirnya tanganku seperti bergerak lincah melilitkan pashmina di kepala Maz. Padahal aku sama sekali tidak pernah menggunakan pashmina sebagai hijab. Tapi hari itu... Entahlah. Mungkin aku terlalu senang saat itu sampai rasa-rasanya gorden di jendela pun bisa aku jadikan hijab untuk Maz.
Aku tahu banyak kekhawatiran yang menyertai Maz saat ia memutuskan untuk berhijab. Ketakutan akan penerimaan keluarga besar, rekan kerja dan bos di tempat ia mengajar freelance Bahasa Inggris. Penolakan visa (dipersulit) saat keluar masuk AS. Penerimaan orangtua asuhannya di New York. Dan tentu saja ketakutannya pada dirinya sendiri. Kekhawatiran bahwa mungkin suatu hari Maz akan membuka hijabnya kembali. Ya, semua ketakutanku yang hampir aku dan mungkin sebagian besar wanita muslimah lain rasakan sebelum memutuskan untuk berhijab.

Tapi ukhti, hidayah itu memang bukan seperti durian runtuh. Bukan bonus belanja atau lotre yang tiba-tiba akan dengan senang hatidatang menghampiri. Hidayah tak ubahnya seperti rexeki. Hidayah itu harus kita yang menjemput. Jika engkau telah berjilbab, semoga Allah memberikan keistiqomahan dalam menjaganya, jika engakau masih ragu, maka mintalah berdo’alah keopada Allah untuk menguatkan hatimu dan memantapkan keputusan untuk berjilbab. Jika aku bisa, Maz bisa, engkau pun pasti bisa. Semoga di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini banyak Mazuin0-Mazuin lainnya yang lahir di bumi Allah. Dan saya berharap kamu adalah satu-satunya. Ya kamu. Karena saya yakin  kamu akan jauuuuhhh lebih cantik dengan jilbabmu. J.


Salam cinta da ukhuwah
Erna Eruna
Master Program of Fishing and Processing Technology
Ege University-Izmir, Turkey


Repost by: Cahaya Dhuafa


Nyok baca yukk....!!!

Membaca membuat kami merasa dekat dengan Dunia.. Membaca bagi kami adalah gerbang awal kami melihat kedepannya, membuat kami menjadi tahu, membuat kami menjadi mengerti segala hal. Yang berkeinginan mewakafkan buku atau membagian sebgian hartnya untuk membeli buku silahkan konfirmasi ke 081574177188.

Sabtu, 25 Oktober 2014

14 Cahaya BSM Peduli

Diawal Juni tepatnya pada tanggal 7, 2014 kami sangat bersyukur kepada Allah yang telah memberikan rahmat dan kasih sayangNya kepada kami. Entah apa yang dirasakan, rasa haru biru tertanam dalam hati, karena masih ada kebaikan yang sangat luas di dunia ini yang telah diberikan kepada kami. Pada intinya kami mengucapkan banyak terimakasih kepada Bank Syariah Mandiri yang telah memberikan bantuan kepada kami berupa peralatan sholat (sajadah, Al-Qur'an, mukena), papan mading, meja, dan 1 buah laptop. Betapa bahagianya kami semua. Senyum indah tersungging yang tak dapat diungkapkan, akan tetapi dalam hatinya tak akan pernah lupa dengan apa yang sudah diberikan kepada kami semua. Kelak suatu saat nanti kami-lah yang meneruskan langkah perjuangan membangun pendidikan Indonesia lebih baik. Kepada Bp Bakti yang sudah mengantarkan hadiah terindah ini kepada kami semua, tak lupa juga kepada Bapak Jenal dan tim yang sudah tegar menghibur, memotivasi dan memberikan pelajaran akan ekonomi syariah di Indonesia. Sangat jarang kami mendapatkan pengalaman berharga itu, karena kami tidak pernah mempelajari dan mendapatkannnya di sekolah. Mungkin akan mendapatkan, jika kami harus menuruskan pendidikan ke bangku kuliah. Itupun jikalau terdapat kesempatan. Kesempatan itu langka bagi kami semua. Allah-lah yang akan membalas semuanya dengan balasan yang berlipat ganda. Harapan kami hanya, semoga pemimpin yang bijak yang berada disana mendengarkan dan memperhatikan pendidikan kami semua. Berilah ilmu sebanyak-banyaknya, maka akan kami ubah Indonesia dengan yang lebih baik lagi. Amin.




Jumat, 24 Oktober 2014

Sekolahku Masa Depanku

           SEKOLAHKU
MASA DEPANKU
          

             Di atas awan yang putih, terlihat secara jelas pemandangan sekolah yang menurut kami itu adalah sekolahku masa depanku. Kurang lebih 5 Km dari pusat kota, jarak yang terasa tidak jauh. Sekolahku masa depanku. Bukan karena bertembokkan kerai (setengah kerai setengah tembok), bukan pula beralaskan karpet yang telah usang, juga bukan pula bangku kecil tempat biasa kami menulis pelajaran sekolah. Namun itu semua adalah tempat kami menimba ilmu, menjadi seorang yang bermanfaat untuk yang lain, belajar berakhlak mulia, dan banyak hal yang telah kami pelajari disana.
           Berawal dari ketidakmauan kami memberatkan orang tua (tutur salahsatu dari kami kepada seorang guru), maka azam dalam hati yang tetap kuat untuk terus menuntut ilmu di sekolah. Jujur sekolah kami GRATIS, tidak ingin membebani anak didiknya. Ketidakmampuan ekonomi mengalah kekuatan tekad yang membaja. Apapun alasannya kami harus tetap sekolah. Banyak jalan menuju Roma, pepatah itulah yang membuat kami tetap bertahan. Bertahan dari terpaan hujan dan angin, keterbatasan buku pelajaran, sarana dan prasarana yang kurang mendukung, bahkan terkadang hidung ini harus mampu menahan bau sampah yang keberadaannya tepat di depan sekolah kami.
           Masa depan cerah diraih bukan dengan hanya bermalas-malas ria, bersendau gurau yang berlebihan. Namun harus diupayakan dengan kerja keras, berjuang, dan diiringi dengan lantunan doa yang takkan ada lelahnya dibacakan. Rintangan dan ujian sudah pasti ada. Dan itulah sunahtullahnNya. Bagaimana kami sabar dalam menjalankannya. Apapun itu, kami tetap masih tertawa bahagia
           Kali ini, kami bukan menceritakan tentang sekolah kami yang apa ala kadarnya, namun menceritakan bagaimana melaluinya. Guru yang mampu mengajari kami arti kehidupan, bersikap sopan santun, jujur, dan harus menjadi inspirasi bagi yang lainnya. Sahabat yang mampu membagikan kesedihan dan kebahagiaan. Keluarga kami kedua adalah semua orang yang ada di sekolah ini, setelah dirumah. Sikap keras dan kenakalan masa muda kami bukan untuk ketidak inginan kami belajar, tapi inilah kami apa adanya. Orangtua kamilah yang membesarkan kami seperti ini.
           Ingatkan kami hari ini! Agar kami menjadi “Orang Sungguhan”. Kami yang terus berusaha berjuang bersekolah -memperkaya ilmu pengetahuan, dan tetap akan menjadi muridmu yang berbakti. Masa depan yang gemilang tepat didepan mata. Maka akan segera kami raih, dan kami teguk kebahagiannya.

Repost by: Cahaya Dhuafa